Pecat Guru Tanpa Pesangon Dan Uang Pindah Siswa Mahal, Begini Kata Kepsek SPAN Medan

By Redaksi 20 Jul 2019, 08:09:46 WIBPendidikan

Pecat Guru Tanpa Pesangon Dan Uang Pindah Siswa Mahal, Begini Kata Kepsek SPAN Medan

Keterangan Gambar : Kepala Sekolah Dody Arisandy, SP.d


Intipos.com | Medan - Sekolah Penerbangan Angkasa Nasional (SPAN) dikabarkan telah memecat sejumlah guru tanpa pesangon.

Salah seorang guru senior yang dipecat, Dra.Nurmasyiah Siregar, kepada wartawan menuturkan bahwa surat pemecatan dilayangkan oleh pihak Yayasan Pengembangan Pembangunan Nasional (YPPN) Sumbar, selaku yayasan yang mengelola SPAN Medan, pada 15 Juli 2019.

"Surat pemecatan itu ditandatangani Ketua YPPN Medan," tutur Nurmasyiah Siregar kepada wartawan di Medan, Kamis (18/7/2019).

Menurut Nurmasyiah didampingi Irna Banjar Sari, S.Pd, mereka tidak mengetahui apa kesalahan mendasar yang membuat mereka dipecat.

Apalagi sebelumnya mereka juga tidak pernah mendapatkan surat teguran atau surat peringatan dari pihak sekolah.

Namun Nurmasyiah mengaku sebelumnya sempat mengalami ketidakcocokan dengan Kepala Sekolah SPAN Medan Dody Arisandy, terkait sejumlah kebijakan yang diterapkan.

"Kami kecewa dan merasa dicampakkan oleh pihak yayasan karena pemecatan dilakukan sewenang-wenang," tutur Nurmasyiah.

Sebanyak enam guru ditambah satu orang petugas kebersihan yang dipecat tanpa pesangon ini rencananya akan membuat pengaduan ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sumut guna menuntut keadilan.

Kepala Sekolah Dody Arisandy, SP.d saat dikonfirmasi oleh awak media ini terkait pemecetan tersebut, membantah telah memecat dua guru yakni Dra. Nurmasyiah Siregar dan Irna Banjar Sari, SP.d. 

Dikatakan Dody, bahwa pihaknya membenarkan telah memecat 1 pegawai kebersihan dan dua guru lainnya. Dan guru tersebut sudah menerima tidak diperpanjang lagi SKnya oleh Yayasan.

"Satu pegawai wanita memang benar kita pecat, dan dua guru lainnya juga sudah kita berhentikan dan tidak diperpanjang lagi, dan untuk kedua guru tersebut juga setuju untuk itu, " Sebut Dody.

Lalu, terkait ibu Nurmasyiah dan ibu Irna, saya tidak pernah ada melakukan pemecatan dan tidak pernah menerbitkan surat pemecatan tersebut, mereka keluar begitu saja dan tidak pernah masuk lagi, sebut Dody lagi.

Sebelumnya, kedua guru yang dipecat itu sering bermasalah terkait displin dan sudah diterbitkan surat peringatan hingga tiga kali, termasuk ibu Nurmasyiah dan ibu Irna Banjar Sari.

Namun kepada ibu Nurmasyiah dan ibu Irna Banjar Sari, sudah dilayangkan surat peringatan sebelumnya namun beliau sudah keburu tidak masuk sekolah lagi.

"Sebenarnya begini, ada surat dari Yayasan terkait pemecetan mereka. Namun surat tersebut dikirim ke WA grup staf sekolah, saya tidak tahu kenapa bocor dan sampai kepada ibu Nurmasyiah dan ibu Irna Banjar Sari, semenjak dari situ, kedua guru tersebut tidak pernah masuk sekolah lagi," Papar Dody.

Padahal, sambung Dody. Bahwa surat dari Yayasan tersebut ingin ia godok kembali dan mencermati ulang apa sebab mendasar hingga anggotanya harus dipecat. Namun nahas, surat tersebut sudah keburu sampai ke ibu Nurmasyiah dan ibu Irna Banjar Sari.

"Keduanya terlalu cepat mengambil sikap, dan tanpa proses musyawarah terlebih dahulu langsung tidak pernah masuk lagi.
Padahal surat tersebut belum dibubuhi stempel basah dari Yayasan,hingga menurut saya, masih belum memiliki kekuatan hukum apapun disana," ujar Dody.

Murid harus membayar untuk pindah sekolah akibat konflik internal sekolah turut dibantah Dody. Pasalnya, menurutnya, siswa yang pindah hanyalah dua orang saja, memang benar ada kutipan dari itu, namun sudah jelas peruntukannya untuk apa dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Siswa kita terlihat aman dan nyaman kok, bisa dicek sendiri, jadi mereka pindapindah bukan karena isu konflik disekolah dan kita tidak pernah mempersulit siswa yang mau pindah, hanya saja sekolah juga punya aturan dan adminstrasi sendiri. Dan jumlah itu sudah diperingan sekolah dari jumlah yang seharusnya dibayarkan wali murid ke sekolah, karena uang sekolah kita per semester," Ucap Dody.

Harusnya, tambah Dody, uang yang harus dibayarkan itu bisa sekisar Rp.9.500.000,- kalau ditotal, namun hanya saja, ada wali murid yang merasa itu kemahalan dan sekolah memperingannya menjadi Rp. 4.200.000,- dan salah satu wali murid setuju dan satunya lagi tidak.

"Saya pikir masalah siswa pindah dan kebijakan terkait uang pindah dan mempersulit siswa itu adalah masalah yang tidak substansi tapi dikait-kaitkan, mereka memang tidak cocok dengan saya, disekolah ini memang mengenal senior junior, tetapi apakah itu berlaku untuk guru? Kan tidak, jika mereka berdua tidak senang dengan saya, karena saya junior mereka, lantas mau bagaimana lagi," Ungkap Dody.

Kemudian, lanjut Dody, didalam SK Yayasan tertuang poin, bahwa jika tidak diperpanjang SK maka tidak akan ada pesangon dan apabila ada aturan yang keliru, bisa dimusyawarahkan kembali. Dan sudah tertuang juga dalam surat pernyataan guru seblum mengajar yang ditandatangani oleh materai Rp.6000. Dan untuk keduanya pun setuju dan tidak menuntut.

Lalu, kepada ibu Dra. Nurmasyiah dan Irna Banjar Sari, SP.d, karena saya tidak merasa memecat pesangon apa yang dia maksud?, kalau mereka mau baik-baik musyawarah saya akan bantu fasilitasi kebutuhan mereka terkait pesangon kepada Yayasan.

"Semua hanya perlu musyawarah saja kok, tapi apabila para guru ini tetap menempuh jalur hukum maka saya siap untuk itu," Tutup Dody Arisandy.

SMK Penerbangan Angkasa Nasional yang berlokasi di Jalan Turi Ujung, saat ini memiliki sekitar 63 orang siswa yang tersebar di dua jurusan yakni Jurusan Airframe and Powerplant, dan Jurusan Avionic. (red) 


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook